Home HUMAS Virus Corona Musibah atau Anugerah

Virus Corona Musibah atau Anugerah

1,183
101
SHARE
Virus Corona Musibah atau Anugerah

Oleh: Teguh Imam Agus Hidayat

(Litbang Klinik Pendidikan MIPA)

Akhir-akhir ini hampir setiap media massa dan media sosial membahas keberadaan virus Covid-19 (virus corona). Semua orang memiliki cara pandang untuk melihat dan menghadapi virus ini. Sebaiknya, bagaimana sikap kita? Yang pertama kita harus sadari ini adalah musibah. Dalam hal ini dijelaskan oleh para ulama untuk kita sabar. Sabar sendiri terbagi menjadi tiga tingkatan, pertama sabar terhadap taat, kedua sabar terhadap meninggalkan ma’siat, dan ketiga sabar dalam mengahapi musibah. Artinya sabar dalam menghadapi musibah adalah sabar yang paling tinggi dan mempunyai banyak pahala. Dalam Al Qur’an Allah SWT berfiman yang artinya “Allah bersama orang sabar” (Q.S Al Baqarah : 153). Mengapa bisa bersama?

Apakah Allah SWT mempunyai batas? Tentu jawabnya tidak. Apakah orang mempunyai batas? Tentu jawabnya iya. Allah SWT akan bersama kita saat kita memiliki kesabaran yang tiada batas, karena dengan sabar kita mendapatkan pahala yang luar biasa dan akan menjadi lebih dekat dengan Allah SWT.

Saat kita semua melakukan kesabaran ini, maka kita telah mendapatkan pelajaran yang berharga atas kejadian ini. Kedua agar semua ini berubah menjadi anugerah, maka dalam berpikir suprarasional kita harus membangun kepedulian dalam diri, keluarga, serta lingkungan. Kepedulian dalam diri dan keluarga, kita mengajak semua untuk selalu membersihkan diri secara zahir maupun batin.

Membersihkan secara zahir, selalu mencuci tangan, berwudu (menjaga wudhu), sebelum melakukan aktivitas, membersihkan diri dan pakaian setelah melakukan aktivitas. Sedangkan membersihkan diri secara batin, memperbanyak istighfar, salawat atas Nabi Muhammad SAW dan pujian kepada Allah SWT (tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan hauqalah) serta memperbanyak sunah Nabi yang lain seperti membaca Alqur’an, salat sunah (rawatib, duha, hajat, dan atau tahajud), puasa sunah (Senin-Kamis, puasa di bulan Syakban, puasa Yaumul Bidh, dan atau puasa Daud). Ketika semua orang khususnya orang beriman melaksanakan ini, maka musibah ini menjadi anugerah karena kita semua semakin dekat dengan Yang Maha Suci, yaitu Allah SWT.

Selain kepedulian terhadap diri, kita juga harus melakukan kepedulian terhadap lingkungan. Karena saat ini banyak wilayah yang menghimbau untuk karantina wilayah, salah satunya diam di rumah. Diam di rumah bukan pilihan yang mudah untuk sebagian orang, apalagi orang-orang yang memiliki penghasilan harian. Disini kita harus tolong-menolong, bagi yang memiliki kelebihan harta, maka diharapkan memberikan sembako (makanan pokok) kepada tetangga. Cara ini bisa dilakukan secara individu atau kolektif di tingkat RT ataupun RW. Tidak perlu menunggu pihak berwenang untuk melaksanakan ini, karena kita semua yang mempunyai kelebihan juga berwenang untuk melaksanakan hal demikian. Aktivitas tersebut sebagai wujud menjalankan sunah Nabi Muhammad SAW dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Saat kita semua melakukan ini, maka musibah menjadi anugerah, karena kita semakin menjalankan sunah Nabi dalam hal tolong menolong dan kepedulian terhadap lingkungan.

Pada akhirnya, musibah ataupun anugerah tergantung bagaimana kita menyikapi Covid-19 (virus corona). Semoga kita semua dilindungi oleh Allah SWT.

Jakarta, 1 April 2020