Home PELATIHAN Kompetensi Guru, Kunci Reformasi Pembelajaran Sains

Kompetensi Guru, Kunci Reformasi Pembelajaran Sains

206
0
SHARE
Kompetensi Guru,  Kunci Reformasi Pembelajaran Sains

Bogor – Kita tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa prestasi belajar sains anak Indonesia kurang menggembirakan. Bercermin dari data Program for International Student Assessment (PISA) 2015, dari 70 negara yang berpartisipasi pada PISA 2015, Indonesia menempati posisi ke-62 untuk pelajaran sains. Senada dengan hasil studi PISA 2015, hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2016 tingkat Nasional pun menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains anak Indonesia sangat lemah: 73,61% anak memiliki kemampuan sains kurang, 25,38 % anak memiliki kemampuan sains cukup, dan hanya 1,01% anak memiliki kemampuan sains yang baik (Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Kemendikbud, 2016).

Reformasi pembelajaran sains harus dilakukan agar bisa memperbaiki kemampuan sains anak-anak Indonesia. Kunci reformasi pembelajaran sains sendiri sangat ditentukan oleh tingkat kompetensi guru sains. “Peningkatan dan penguatan kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran sains menjadi hal urgen yang harus dilakukan.” ujar Aji Endro, Litbang di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Menurutnya, guru harus terus meningkatkan kapasitas diri, baik sebagai pengajar maupun pembelajar sehingga bisa mendorong terciptanya suasana pembelajaran sains yang kontekstual, bermakna, dan menyenangkan bagi para siswa.

KPM mengembangkan Sains Nalaria Realistik (SNR) sebagai sebuah pendekatan pembelajaran sains yang mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill). SNR mengembangkan tahapan-tahapan penyajian materi dalam pembelajaran sains, mulai dari penyajian masalah nyata, pemahaman konsep, penalaran komunikasi, pemecahan masalah, eksplorasi sains, dan pelaksanaan praktikum dengan metode STEAM (Science Technology Engineering Art Mathematics). Belajar sains tak harus dihafal, tetapi harus dipahami secara bermakna. Siswa mesti diajak berpikir kritis dan dituntun agar bisa membangun pengetahuan sains dan bersikap ilmiah lewat proses ilmiah. Hal ini ditegaskan Aji Endro disela-sela mengisi pelatihan SNR, “Kompetensi sains siswa mesti dibangun melalui proses ilmiah di dalam maupun di luar kelas. Pembelajaran SNR memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berekspresi dan mengeksplorasi diri mereka lewat aktivitas sains yang bermakna dan menyenangkan.” tegasnya. 

Tulisan ini pernah dimuat di www.bogorplus.com